Makalah Ulumul Quran: Masuknya Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an
<div>Masuknya Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an<p>oleh: Farihatni Mulyani*</p><p>Abstrak</p><p>Tulisan ini mengangkat tentang israiliyat yang masuk dalam penafsiran<br />al-Qur'an, Israliyyat adalah bentuk jamak dari Israiliyyah yakni bentuk kata<br />yang dinisbahkan kepada kata Israil (bahasa Ibrani), Israiliyyat dalam tafsir<br />al-Qur'an tidak lepas dari kondisi sosio cultural masyarakat Arab pada zaman<br />Jahiliyyah, pengetahuan mereka tentang ini telah masuk ke dalam benak<br />keseharian mereka sehingga tidak dapat dihindari adanya interaksi kebudayaan<br />Yahudi dan Nashrani dengan kebudayaan Arab yang kemudian menjadi jazirah<br />Islam, keberadaan Israiliyyat dalam tafsir banyak memberi pengaruh buruk<br />terhadap sikap teliti yang telah diperaktikan oleh para sahabat dalam<br />mentransper Israiliyyat dan tidak menjadi perhatian generasi sesudahnya,<br />sehingga banyak cerita Israiliyyat yang mengandung khurafat dan bertentangna<br />dengan nash mewarnai kitab tafsir.<br />Kata kunci : Israiliyyat, Tafsir, Penafsiran</p><p>PENDAHULUAN</p><p>Teks al-Qur'an adalah wahyu Allah yang tidak akan berubah oleh<br />campur tangan manusia, tapi pemahaman terhadap al-Qur'an tidak tetap,<br />selalu berubah sesuai dengan kemampuan orang yang memahami isi<br />kandungan al-Qur'an itu dalam rangka mengaktualkannya dalam bentuk<br />konsep yang bisa dilaksanakan. Dan ini akan terus berkembang sejalan<br />tuntutan dan permasalahan hidup yang dihadapi manusia, maka di sinilah<br />celah-celah orang yang ingin menghancurkan Islam berperan.<br />Sebagai petunjuk, tentunya al-Qur'an harus dipahami, dihayati dan<br />diamalkan oleh manusia yang beriman kepada petunjuk itu, namun dalam<br />kenyataannya tidak semua orang bisa dengan mudah memahami al-Qur'an,<br />bahkan sahabat-sahabat Nabi sekalipun yang secara umum menyaksikan<br />turunnya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah<br />*Penulis adalah Dosen pada fakultas Syari'ah IAIN Antasari Banjarmasin dan<br />sedang menempuh S.2 di Program Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin angkatan<br />2006, konsentrasi Filsafat Hukum Islam.</p><p>struktur bahasa dan kosa katanya. Tidak jarang mereka berbeda pendapat<br />atau bahkan keliru memahami maksud firman Allah yang mereka dengan<br />atau yang mereka baca.1 Karena itu Rasulullah berfungsi sebagai<br />penjelas (mubayyin) maksud firman Allah.</p><p>Pada masa Rasulullah saw hidup, umat Islam tidak banyak<br />menemukan kesulitan dalam memahami petunjuk dalam mengarungi<br />hidupnya, sebab manakala menemukan kesulitan dalam satu ayat,<br />mereka akan langsung bertanya kepada Rasulullah saw dan kemudian<br />Beliau menjelaskan maksud kandungan ayat tersebut. Akan tetapi<br />sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam banyak menemukan kesulitan<br />karena meskipun mereka mengerti bahasa Arab, al-Qur'an terkadang<br />mengandun isyarat-isyarat yang belum bisa dijangkau oleh pikiran orangorang<br />Arab. Oleh karena itu mereka membutuhkan tafsir yang bisa<br />membimbing dan menghantarkan mereka untuk memahami isyarat-isyarat<br />seperti itu.</p><p>Langkah pertama yang mereka ambil adalah melihat pada hadits<br />Rasulullah saw, karena mereka berkeyakinan bahwa Beliaulah satu-satunya<br />orang yang paling banyak mengetahui makna-makna wahyu Allah.<br />Disamping itu, mereka mengambil langkah dengan cara menafsirkan satu<br />ayat dengan ayat lainnya, langkah selanjutnya yang mereka tempuh adalah<br />menanyakannya kepada sahabat yang terlibat langsung serta memahami<br />konteks posisi ayat tersebut. Manakala mereka tidak menemukan jawaban<br />dalam keterangan Nabi atau sahabat, mereka terpaksa melakukan ijtihad<br />dan lantas berpegang kepada pendapatnya sendiri, khususnya<br />mereka yang mempunyai kapasitas intelektual yang mumpuni seperti<br />Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab dan Ibnu Mas'ud ra.2<br />Selain bertanya kepada para sahabat seneor sumber informasi bagi<br />penafsiran al-Qur'an, mereka bertanya juga kepada ahli kitab, yaitu kaum<br />Yahudi dan Nashrani. Hal itu mereka lakukan lantaran sebagian<br />masalah dalam al-Qur'an memiliki persamaan dengan yang ada dalam<br />kitab suci merkaa, terutama berbagai tema yang menyangkut umat-umat<br />terdahulu. Penafsiran seperti ini terus berkembang sejalan dengan<br />perkembangan pemikiran manusia dan kebutuhannya akan urgensi al-Qur'an<br />1Muhammad Husain adz-Dzahabi, al-Tafsir,al-Mufassirin, (Mesir: Dar al-Kutub<br />wal al-Hadits, 1976), jilid I, h. 59.<br />2M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur'an, (Bandung: Mizan, 1992), h. 71</p><p>sebagai petunjuk bagi kehidupannya sedemikian sampai-sampai tanpa<br />disadari bercampurlah tafsir dengan Israiliyat. Kehadiran israiliyyat<br />dalam penafsiran al-Qur'an itulah yang, menjadi ajang polemic dikalangan<br />para ahli tafsir al-Qur'an. Karenanya, makalah ini akan membahas tema<br />israiliyat dari sudut apa pengertian israiliyyat, bagaimana proses masuk<br />dan berkembangnya israiliyyat dalam tafsir dan bagaimana pengaruh<br />israiliyyat dalam penafsiran al-Qur'an.</p><p>PEMBAHASAN</p><p>1. Pengertian Israiliyyat<br />Ditinjau dari segi bahasa kata israiliyyat adalah bentuk jamak<br />dan kata israiliyah, yakm bentuk kata yang dinisbahkan pada kata Israil<br />yang berasal dari bahasa Ibrani, Isra bararti hamba dan Il berarti Tuhan, jadi<br />Israil adalah hamba Tuhan. Dalam deskreptif histories, Israil barkaitan erat<br />dengan Nabi Ya'kub bin Ishaq bin Ibrahim as, dimana keturunan beliau<br />yang berjumlah dua betas disebut Bani Israil. Di dalam al-Qur'an banyak<br />disebutkan tentang Bani Israil yang dinisbahkan kepada Yahudi.3 Misalnya<br />firman Allah dalam surah al-Maidah:78, al-Isra:4, an-Naml: 76.</p><p>Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan<br />Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan<br />mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (al-Maidah: 78)</p><p>Dan telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu,<br />sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi<br />3Muhammad Husain adz-Dzahabi, al-Israilyyat fit-Tafsiri wa al-Hadits,<br />terjemahan Didin Hafiduddin (Jakarta, PT. Litera Antara Nusantara, 1993), h. 8.</p><p>ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan<br />kesombongan yang besar. (al-Isra : 4)</p><p>Sesungguhnya al-Qur'an ini menjelaskan kepada Bani Israel<br />sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih<br />tentangya (an-Naml: 78)</p><p>Secara istilah para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan<br />israiliyyat. Menurut adz-Dzahabi israiliyyat mengandung dua pengertian<br />yaitu, pertama: kisah dan dongeng yang disusupkan dalam, tafsir dan<br />hadits yang asal periwayatannya kembali kepada sumbernya yaitu Yahudi,<br />Nashrani dan yang lainnya. Kedua: cerita-cerita yang sengaja<br />diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits yang<br />sama sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber-sumber lama.4<br />Definisi lain dari asy-Syarbasi adalah kisah-kisah dan beritaberita<br />yang berhasil diselundupkan oleh orang-orang Yahudi ke dalam<br />Islam. Kisah-kisah dan kebohongan mereka kemudian diserap oleh umat<br />Islam, selain dari Yahudi merekapun menyerapnya dari yang lain.5<br />Sedangkan Sayyid Ahmad Khalil mendefenisikan israiliyyat dengan<br />riwayat-riwayat yang berasal dari ahli kitab, balk yang berhubungan dengan<br />agama mereka maupun yang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya.<br />Penisbahan riwayat israiliyyat kepada orang-orang Yahudi karena para<br />perawinya berasal dari kalangan mereka yang sudah masuk Islam.6<br />Dari tiga definisi tersebut di atas tampaknya ulama-ulama sepakat<br />bahwa yang menjadi israiliyyat adalah Yahudi dan Nashrani dengan<br />penekanan Yahudilah yang menjadi sumber utamanya sebagaimana<br />tercermin dari perkataan israiliyyat itu sendiri. Abu Syu'bah mengatakan<br />pengaruh Nashrani dalam tafsir sangat kecil. Lagi pula pengaruhnya tidak<br />begitu membahayakan akidah umat Islam karena umumnya hanya<br />4Muhammad Husin adz-Dzahabi, op. cit, h. 9-10.<br />5Rosihan Anwar, Melacak Unsur-unsur Israiliyyat dalam Tafsir ath-Thabari dan<br />Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 24-25.<br />6Sayyid Kamal Khalil, Dirasah fil al-Qur'an, (Mesir: Dar al-Ma'rofah, 1961),<br />h.113.</p><p>menyangkut urusan akhlak, nasihat dan pembersihan jiwa.<br />Formulasi tentang israillyat tersebut terus berkembang di kalangan<br />para pakar tafsir al-Qur'an dan hadits sesuai dengan perkembangan<br />pemikiran manusia. Bahkan di kalangan mereka ada yang berpendapat<br />bahwa israiliyyat mencakup informasi-informasi yang tidak ada dasarnya<br />sama sekali dalam manuskrip kuno dan hanya sekedar sebuah manipulasi<br />yang dilancarkan oleh musuh Islam yang diselundupkan pada tafsir dan<br />hadits untuk merusak aqidah umat Islam dari dalam.<br />Meskipun israiliyyat banyak diwarnai oleh kalangan Yahudi, kaum<br />Nashrani juga turut ambil bagian dalam konstalasi versi israiliyyat ini.<br />Hanya saja dalam hal ini, kaum Yahudi lebih popular dan dominan.<br />Karenanya kata Yahudi lebih dimenangkan lantaran selain Yahudi lebih<br />lama berinteraksi dengan umat Islam, di kalangan mereka juga banyak yang<br />masuk Islam.</p><p>2. Proses Masuk dan Berkembangnya Israiliyyat dalam Tafsir al-Qur'an<br />Infiltrasi kisah israiliyyat dalam tafsir al-Qur'an tidak lepas dari<br />kondisl sosio cultural masyarakat Arab ada zaman jahiliyah.<br />Pengetahuan mereka tentang israiliyyat telah lama masuk ke dalam<br />benak keseharian mereka sehingga tidak dapat dihindari adanya interaksi<br />kebudayaan Yahudi dan Nashrani dengan kebudayaan Arab yang<br />kemudian menjadi jazirah Islam itu.<br />Sejak tahun 70 M terjadi imigrasi besar-besaran orang Yahudi<br />ke Jazirah Arab karena adanya ancaman dan siksaan dari penguasa Romawi<br />yang bernama Titus. Mereka pindah bersama dengan kebudayaan yang<br />mereka dari ambil dari Nabi dan Ulama mereka, Berta mereka wariskan dari<br />generasi ke generasi. Mereka mempunyai tempat yang bernama Midras<br />sebagai pusat pengajian kebudayaan warisan yang telah mereka terima<br />dan menemukan tempat tertentu sebagai tempat beribadah dan<br />menyiarkan agama mereka.7<br />Selain itu juga bangsa Arab sering berpindah-pindah, baik<br />kearah timur maupun barat. Mereka memiliki dua tujuan dalam<br />berpergian. Bila musim panas pergi ke Syam dan dingin pergi ke<br />Yaman. Pada waktu itu di Yaman dan Syam banyak sekali ahli kitab<br />yang sebagian besar adalah bangsa Yahudi. Karena itu tidaklah<br />mengherankan bila antara orang Arab dengan Yahudi terjalin hubungan.<br />7Adz-Dzahabi, op. cit., h. 25.</p><p>Kontak ini memungkinkan merembesnya kebudayaan<br />Yahudi kepada bangsa Arab.<br />Di saat yang demikian Islam hadir dengan kitabnya yang bernilai<br />tinggi dan mempunyai ajaran yang bernilai tinggi pula. Dakwah Islam<br />disebarkan dan Madinah sebagai tempat tujuan Nabi hijrah tinggal<br />beberapa bangsa Yahudi yaitu Qurayqa, Bani Quraidah, Bani Nadzir,<br />Yahudi Haibar, Tayma dan Fadak.8 Karena orang Yahudi bertetangga<br />dengan kaum muslimin, lama kelamaan terjadi pertemuan yang intensif<br />antara keduanya, yang akhinya terjadi pertukaran ilmu pengetahuan.<br />Rasulullah menemui orang Yahudi dan ahli kitab lainnya untuk<br />mendakwahkan Islam. Orang Yahudi sendiri sering datang kepada<br />Rasulullah saw untuk menyelesaikan suatu problem yang ada pada mereka,<br />atau sekedar untuk mengajukan suatu pertanyaan.<br />Pada era Rasulullah saw, informasi dari kaumYahudi dikenal<br />sebagai israiliyyah tidak berkembang dalan penafsiran al-Qur'an,<br />sebab hanya beliau satu-satunya penjelas (mubayyin) berbagai masalah<br />atau pengertian yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur'an umpamanya<br />saja, apabila para sahabat mengalami kesulitan mengenai pengertian<br />yang berkaitan dengan sebuah ayat al-Qur'an, baik makna atau<br />kandungannya, merekapun langsung bertanya kepada Rasulullah saw.9<br />Kendatipun demikian,, Rasulullah juga telah memberikan<br />semacam green light pada umat Islam untuk menerima informasi yang<br />menyebarkan informasi dari Bani Israil, hal ini tampak dalam hadits beliau:</p><p>"Sampaikanlah yang datang dariku walaupun satu ayat, dan<br />ceritakan (apa yang kamu dengar) dari Bani Israil dan hal itu<br />tidak ada salahnya. Barang siapa yang berdusta ayatku, maka<br />siap-siaplah untuk menempati tempatnya di neraka".<br />8Ibid.</p><p>9Zainal Hasan Rifai, Kisah-kisah Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an dalam<br />Belajar Ulumul Qur'an, (Jakarta: Lentera Basitama, 1992), h. 278.<br />10Imam Bukhari, Matn Bukhari, (Beirut, Dar al-Fikr, t.th), jilid, II, h. 181.</p><p>Demikian pula dalam hadits lain beliau bersabda:</p><p>"Janganlah kamu benarkan orang-orang ahli Kitab dan jangan<br />pula kamu dustakan mereka. Berkatalah kamu sekalian, kami<br />beriman kepada dan kepada apapun yang diturunkan kepada kami.<br />Dari hadits-hadits di atas Rasulullah sebenarnya memberikan<br />peluang atau kebebasan pada umatnya untuk mengambil atau menerima<br />riwayat-riwayat dan ahli Kitab. Dua hadits di atas juga memberikan<br />semacam warning akan perlunya sikap selektif dan hati-hati terhadap<br />riwayat ahli kitab.</p><p>Dan uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa<br />israiliyyat sebenarnya sudah lama muncul dan berkembang di<br />kalangan bangsa Arab jauh sebelum Rasulullah saw, yang kemudian<br />terus bertahan pada era Rasulullah saw. Hanya saja ia belum menjadi<br />khasanah yang merembes dalam penafsiran al-Qur'an.</p><p>Setelah Rasul wafat, tidak seorangpun yang berhak menjadi penjelas<br />wahyu Allah. Dalam kondisi ini para sahabat mencari sumber dari hadits<br />Rasul. Apabila mereka tidak menjumpai, mereka berijtihad. Riwayat dan<br />ahli Kitab menjadi salah satu rujukan. Hal ini terjadi karena ada persamaan<br />antara al-Qur'an, Taurat dan Injil. Hanya saja al-Qur'an berbicara secara<br />padat, sementara Taurat dan Injil berbicara panjang lebar.</p><p>Pada era shahabat inilah israiliyvat mulai berkembang dan<br />tumbuh subur. Hanya saja dalam menerima riwayat dan kaum Yahudi dan<br />Nashrani pada umumnya mereka amat ketat. Mereka hanya membatasi<br />kisah-kisah dalam al-Qur'an secara global dan Nabi sendiri tidak<br />menerangkan kepada mereka kisah-kisah tersebut. Disampng itu mereka<br />terkenal sebagai orang-orang yang konsekuen dan konsesten pada ajaran<br />yang diteima dari Rasulullah saw, sehingga jika mereka menjumpai kisahkisah<br />israiliyyat yang bertentangan dengan syari'at Islam,<br />mereka menentangnya.</p><p>Dan apabila kisah-kisah itu diperselisihan mereka<br />menangguhkannya. adz-Dzahabi mengatakan keterlibatan para sahabat<br />dalam meriwayatkan israiliyyat tidak berlebih-lebihan dan dalam batas<br />kewajaran.12<br />11Ibid.,jilid. III, h. 270.</p><p>Pada era tabi'in, penukilan dari ahli Kitab semakin meluas dan<br />cerita-cerita israiliyyat dalam tafsir semakin berkembang. Sumber cerita ini<br />adalah orang-orang yang masuk Islam dari kalangan ahli Kitab yang<br />jumlahnya cukup banyak dan ditunjang oleh keinginan yang kuat dari<br />orang-orang untuk mendengar kisah-kisah yang ajaib dalam kitab mereka.<br />Oleh karenanya pada masa tersebut muncul sekelompok mufassir yang ingin<br />mengisi kekosongan pada tafsir, yang menurut mereka dengan memasukan<br />kisah-kisah yang bersumber pada orang-orang yang Yahudi dan Nasrani.<br />sehingga karenanya tafsir-tafsir tersebut menjadi simpang siur dan bahkan<br />kadang-kadang mendekati takhayul dan khurafat. Diantaranya adalah<br />Muqatil bin Sulaiman. Pada era ini pula banyak hadits-hadits palsu,<br />kedustaan dan kebohongan yang disandarkan kepada Rasulullah saw<br />tersebar.13<br />Sikap selektef dalam periwayatan menjadi hilang. Banyak<br />periwayatan yang tidak melalui jalur "kode etik metodologi penelitian"<br />ilmu hadits dengan tidak menuliskan sanadnya secara lengkap.<br />Setelah era tabi'in tumbuh kecintaan yang luar biasa terhadap cerita<br />israiliyyat dan diambil secara ceroboh, sehinga setiap cerita tersebut tidak<br />lagi ada vang ditolak.</p><p>Mereka tidak lagi mengambil cerita tersebut kepada al-Qur'an,<br />walaupun tidak dimengerti oleh akal. Mereka menganggap tidak perlu<br />membuang cerita-cerita dan kisah-kisah yang tidak dibenarkan untuk<br />menafsirkan al-Qur'an.</p><p>Ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya israiliyyat<br />dalam tafsir yaitu:14 Pertama, perbedaan metodologi antara al-Qur'an.<br />Taurat dan Injil dalam global dan ringksan titik tekannya adalah<br />memberikan petunjuk jalan yang benar bagi manusia, sedangkan Taurat dan<br />Injil mengemukakan secara terinci, perihal, waktu dan tempatnya. Ketika<br />menginginkan pengetahuan secara lebih teperinci tentang kisah-kisah umat<br />Islam bertanya kepada kelompok Yahudi dan Nasrani yang dianggap lebih<br />12Muhammad Husin adz-Dzahabi, Penyimpangan dalam Penafsiran al-Qur'an, tabu.<br />(Jakarta: Rajawali, 1986), h. 24.<br />13Ibid.<br />14Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi'i, Ulumul Qur'an, (Bandung: Pustaka Setia,<br />1997), h. 242-243.</p><p>Kedua, ada pula pendapat yang mengatakan rendahnya kebudayaan<br />masyarakat Arab karena kehidupan mereka yang kurang banyak yang<br />pandai dalam hal tulis menulis (ummi). Meskipun pada umumnya ahli Kitab<br />juga selalu berpindah-pindah., tetapi pengetahuan mereka tentang sqarah<br />masa lampau lebih luas. Ketiga, ada justifikasi dari dalil-dalil naqlilah yang<br />difahami masyarakat Arab sebagai pembenaran bagi mereka untuk bertanya<br />pada ahli Kitab. Keempat, adalah heterogenitas penduduk. Menjelang masa<br />kenabian Muhammad saw jazirah Arab dihuni juga oleh kelompok Yahudi<br />dan Nasrani. Kelima, adanya rute perjalanan niaga. masyarakat Arab, rute<br />selatan adalah Yaman yang dihuni oleh kalangan Nasrani, sedangkan rute<br />ke utara adalah Syam yang dihuni oleh kalangan Yahudi.<br />Menurut Rosehan Anwar sumber israiliyyat dimotori oleh tokohtokoh<br />primer yaitu Abdullah bin Salam, nama lengkapanya adalah Abu<br />Yusuf bin Salam bin al-Haris al-Ansari. Ia menyatakan keislamannya<br />sesaat setelah Rasulullah tiba di Madinah dalam peristiwa hijrah, dalam<br />perjuangan menegakan Islam, Ia termasuk pejuang dalam perang Badar dan<br />ikut menyaksikan penyerahan Bait al-Maqdis ke tangan umat Islam.<br />Riwayat-riwayatnya banyak diterima oleh kedua putranya, Yusuf dan<br />Muhammad, Auf bin Malik, Abu Hurairah. Imam Bukhari pun memasukan<br />beberapa riwayat darinya.15</p><p>Lebih lanjut Rosihan menambahkan selain tokoh tersebut tercatat<br />nama Ka'ab al-Ahbar. Nama aslinya adalah Abu Ishaq Ka'ab bin Mani<br />al-Humairi yang terkenal dengan Ka'ab al-Ahbar karena pengetahuannya<br />yang dalam, ia berasal dari Yahudi Yaman dan memeluk Islam pada<br />masa Umar bin Khattab. Dalam perjuangan menegakan Islam ia turut<br />berjuang menuju Syam bersama kaum muslimin lainnya. Banyak cerita<br />israiliyyat yang dinisbahkan kepadanya. Riwayat-riwayatnya diterima oleh<br />Muawiyah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Malik bin Abi Amir al-Asbani, Atha<br />bin Abi Rabbah dan lain-lain. Kestsiqatannya menjadi perdebatan para<br />ulama, Ahmad bin Amir misalnya meragukan ketsiqatannva bahkan<br />keagamaannya.</p><p>Nama lain adalah Wahab bin Munabbih, nama langkapnya<br />adalah Abu Abdillah bin Munabbih bin Sij al-Yamani. Ia masuk Islam<br />pada masa Rasululah saw. Dzahabi mengatakan ia adalah orang jujur,<br />terpercaya dan banyak menukilkan israiliyyat. Menurut Ibnu Hajar ia adalah tabi'in miskin yang mendapat kepercayaan dari Jumhur ulama. Abu<br />Zahrah dan Nasa'i mengatakan la adalah orang terpercaya.<br />15Rosihan Anwar, op. cit., h. 37.</p><p>3. Pengaruh Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an<br />Menurut Zainul Hasan Rifa'i,16 masuknya israiliyyat dalam<br />penafsiran al-Qur'an terutama yang bertentangan dengan prinsif asasinya<br />banyak menimbulkan pengaruh negatif pada Islam. Diantaranya adalah<br />merusak akidah umat Islam, seperti yang dikemukakan oleh Mudatil<br />ataupun Muhammad dengan Zainab binti Jahsyi yang keduanya<br />mendiskriditkan pribadi Nabi yang ma'shum Berta menggambarkan Nabi<br />sebagai pemburu nafsu seksual.</p><p>Hal ini membawa kesan bahwa Islam adalah agama khurafat,<br />takhayul dan menyesatkan. Hal ini tampak pada riwayat al-Qurthubi<br />ketika menafsirkan firman Allah swt surat al-Mukmin : 7 yaitu</p><p>"para malaikat memikul arsy 'dan yang disekitarnya<br />bertasbih memuji Tuhan..."</p><p>Ayat ini ditafsirkan dengan mengatakan "Kaki malaikat pemikul<br />`arsy berada di bumi paling bawah, sedangkan kepalanya menjulang ke<br />'arsy.17</p><p>Ditambahkannya masuknya israiliyyaat ini memalingkan perhatian<br />umat Islam dalam mengkaji soal-soal kilmuan Islam. Dengan larutnya umat<br />Islam ke dalam keasyikan menikmati kisah-kisah israiliyyaat, mereka tidak<br />lagi antusias memikirkan hal-hal makro, seperti sibuk dengan nama dan<br />anjing Ashabul Kahfi, jenis kayu dari tongkat Nabi musa as, nama binatang<br />yang ikut serta dalam perahu Nabi Nuh as dan sebagainya dimana perincian<br />itu tidak dinamakan dalam al-Qur'an karena memang tidak bermanfaat.<br />Sekiranya bermanfaat al-Qur'an tentu menjelaskan.<br />Selanjutnya adz-Dzahabi mengatakan18 israiliyyat akan merusak akidah kaum muslimin karena mengandung unsur penyerupaan dan<br />pengkongkritan (tasybih dan tajsim) kepada Allah dan mensifati Allah<br />dengan sifat yang tidak sesuai keagungan dan kesempumaan-Nya. cerita<br />itupun mengandung unsur ismah (terpeliharanya) Nabi dan para Rasul dari<br />dosa, menggambarkan mereka dalam bentuk yang menonjol syahwatnya,<br />mendorong mereka pada perbuatan-perbuatan buruk yang tidak pantas dan<br />layak bagi orang yang adil, apalagi orang yang menjadi Nabi.<br />16Zainul Hasan Rifa'i, Kisah-kisah Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an, dalam<br />Jurnal Hikmah, No. 13, Edisi Zulqaidah, 1414- Muharrah 1415, h. 12.<br />17Ibid.<br />18Muhammad Husin adz-Zahabi, op. cit., h. 27-28, 32-33.</p><p>Lebih lanjut beliau menjelaskan israiliyyat memberikan gambaran seolah-olah Islam<br />agama khurafat dan kebohongan yang tidak ada sumbernya. Disamping itu<br />dengan israiliyyat hampir saja hilang kepercayaan pada sebagian ulama salaf,<br />baik dari kalangan sahabat maupun tabi'in. Tidak sedikit cerita israiliyyat<br />yang munkar ini disandarkan kepada sahabat atau tabi'in, seperti Abdullah<br />bin Salam, Ka'ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabbih.<br />Terhadap israiliyyat ulama salaf yang tokohnya antara lain Ibnu<br />Taimiyah melihat tiga bagian, ada yang sejalan dengan Islam<br />perlu dibenarkan dan diriwayatkan, sedangan yang masuk bagian yang<br />tidak sejalan harus ditolak dan tidak boleh diriwayatkan. Sedangkan yang<br />tidak masuk bagian pertama dan kedua tidak perlu dibenarkan dan<br />didustakan, tetapi boleh diriwayatkan. Pendapat serupa dikemukakan<br />oeh lbu Hajar al-Asqalani.19</p><p>Di kalangan ulama Khalaf seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha,<br />Musthafa al-Maraghi, Mahmud Syaltut, Abu Zahrah dan al-Biqa'i. Diantara<br />para ulama ini Muhammad Abduh paling gencar mengkritik kebiasaan<br />ulama Tafsir yang banyak menggunakan israiliyyat dalam menafsirkan<br />al-Qur'an. Menurut Muhammad Abduh menggunakan israiliyyat adalah cara<br />yang mendistori pemahaman terhadap Islam. Sikap keras serupa<br />diperlihatkan oleh Rasyid Ridha (murid Abduh). Ia mengatakan riwayat<br />israiliyyat yang secara eksterim diriwayatkan oleh para ulama telah keluar<br />dari konteks al-Qur'an. Lebih jelas al-Maraghi mengatakan kitab-kitab tafsir<br />keluar dari konteks israiliyyat yang tidak jelas kualitasnya. Sikap negatif<br />yang sama juga, diperlihatkan oleh Muhammad Syaltut, israiliyyat<br />menurutnya hanya menghalangi umat Islam menemukan petunjuk al-Qur'an.<br />Kesibukan mempelajarinya telah memalingkan mereka dari intan dan<br />mutiara yang terkandung dalam al-Qur'an. Abu Zahrah mengatakan<br />israiliyyat harus dibuang karena tidak berguna dalam memahami al-Qur'an. Bahkan al-Biqa'i berargumentasi dengan israiliyyat adalah sesuatu yang<br />mungkar.20<br />19Rosihan Anwar, op. cit., h. 42.</p><p>Penulis berpandangan berdasarkan hadits Rasul dang kenyataan<br />dengan melihat israiliyyat sebagai sumber tafsir, karena melihat keberadaan<br />israiliyyat yang banyak negatif. Beberapa contoh penafsiran berdasarkan<br />israiliyyat banyak kita jumpai dalam tafsir ath-Thabari. Dalam al-Qur'an<br />kisah penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim as diabadikan dalam<br />QS. Al-Shafat 102 yang berbunyi:</p><p>Maka tatkala anak itu sampai (Pada umur sanggup) berusaha<br />bersama-sama dengan Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim berkata: "Hai<br />anakku, sesunguhnva aku melihat dalam mimpi aku meyembelihmu.<br />Pikirkanlah apa pendapatmu? Ia menjawab, "Wahai Bapaku,<br />kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu<br />akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar ".</p><p>Kunci persoalan yang sering menjadi perdebatan para ulama<br />berkaitan dengan tema ini adalah uraian tentang siapa sebenarnya yang<br />di `al-adzabih' pada ayat di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa<br />yang dimaksud itu adalah Nabi Ismail as. putra Nabi Ibrahim as. dari Siti<br />Hajar. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah<br />Nabi Ishaq as, putranya dari Siti Sarah. Pendapat terakhir, menurut Ibnu<br />Katsir dan mufassir lainnya berasal dari israliyyat.21 Karena sumber tafsiran<br />ini berasal dari keinginan mengangkat nenek moyang bangsa Yahudi<br />yaitu Ishaq as. Bahkan menurut Ibnu Katsir lagi pendapat mereka itu<br />bertentangan dengan sumber-sumber ahli kitab mereka.<br />20Ibid., h. 43.</p><p>21Muhammad Nazib ar-Rifa'i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta, Gema<br />Insani, 2000), jilid. IV, h. 40.</p><p>Berkaitan dengan pesoalan di atas, dalam tafsirnya<br />mengungkapkan dua kelompok riwayat yang masing-masing mewakili dua<br />pendapat di atas. Riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud<br />dengan at-dzahabi adalah Nabi Ishaq as. diterimanya dari Abi Kuraib,<br />Zaid bin Habilm, al-Hasan bin Dinar, dari Ali bin Zaid bin Zad'an, dari<br />al-Ahnaf bin Qaid dan al-Abbas bin Abdul Muthalib dan dari Nabi.<br />Sanad israiliyyat yang disandarkan kepada Nabi di atas ditolak<br />oleh para ulama. Menurut Ibnu Katsir sebagaimana ditulis oleh Syu'bah,<br />riwayat itu dha'if, gugur dan tidak dapat dijadikan hujjah sebab salah satu<br />rawinya yaitu Hasan bin Dinar, harus ditinggalkan periwayatannya dan<br />gurunya pun, Zaid bin Zad'an, periwayatannya tidak dapat diterima.<br />Namun kelemahan-kelamahan ini tidak dikemukakan oleh<br />ath-Thabari,22 bahkan ia menjadikannya pemihakan terhadap israiliyyat<br />yang mengatakan yang disembelih adalah Nabi Ishaq as, meskipun tidak<br />mengomentari sanadnya, ia mengomentari matnnya. Dalam hal ini ia<br />memilih riwayat yang mengatakan yang dimaksud dengan al-dzahib adalah<br />Nabi Ishaq as. Ia juga mengatakan al-Qur'an mendukung riwayat itu. Untuk<br />mendukung pendapatnya, ia mengajukan berbagai argumentasi, umpamanya<br />ia berargumentasi bahwa permintaan Nabi Ibrahim as agar dikaruniai putra<br />ketika berpisah dan kaumnya dan hendak hijrah ke Syam bersama isterinya<br />Sarah, terjadi ketika ia belum mengenal Hajar isterinya yang kedua. Setelah<br />peristiwa hijrah itu Tuhan mengabulkan do'anya. Anak itulah yang<br />menurutnya kemudian dilihatnya disembelih dalam ketiga mimpinya.<br />Dalam al-Qur'an, Nabi Ishaqlah yang disebut-sebut sebagai kabar gembira<br />bagi Nabi Ibrahim as, dalam surah as-Shaffat : 101</p><p>"Maka kami memberi kabar gembira kepadanya seorang anak<br />yang sabar "<br />.<br />Diantara israiliyyat yang mewarnai tafsir ada juga yang sejalan<br />dengan al-Qur'an, tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan<br />israiliyyat yang bertentangan dengan al-Qur'an. Diantara yang sejalan<br />dengan al-Qur'an adalah israiliyyat yang bertalian dengan ayat al-A'raf 157<br />22Rosihan Anwar, op. cit., h. 83.</p><p>yang dikutip oleh Ibnu Katsir, yaitu:</p><p>"Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi Ummi yang<br />(namanya) mereka dapati di dalam Taurat dan Injil yang berada<br />di sisi mereka Nabi yang menyuruh mereka mengerjakan perbuatan<br />ma'ruf dan melanggar perbuatan munkar serta menghalalkan bagi<br />mereka segala yang baik ".</p><p>Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir mengutip israiliyyat yang<br />yang disampaikan ath-Thabari dari al-Mutsanna dari Utsman bin Umar dari<br />Fulaih dari Hilal bin Atha bin Yasar, Ia berkata :"Aku bertemu dengan<br />Abdullah bin 'Amr bin Ash dan bertanya kepadanya, ceritakan olehmu<br />kepadaku tentang sifat Rasulullah saw yang diterangkan dalam Taurat sama<br />seperti yang diterangkan dalam al-Qur'an, wahai Nabi sesungguhnya Kami<br />mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan dan<br />pemelihara yang ummi, engkau adalah hamba-Ku, namamu dikagumi,<br />engkau tidak kasar tidak pula keras. Allah tidak akan mencabut namamu<br />sebelum agama Islam tegak lurus, yaitu setelah diucapkan tiada Tuhan yang<br />patut disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Allah, dengan perantaraan<br />engkau pula Allah akan membuka hati yang tertutup, membuka telinga yang<br />tuli dan membuka mata yang buta".</p><p>Ibnu Katsir mengkaitkan israiliyyat itu dengan pernyataan bahwa<br />Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kItabnya Shahihnya yang diterima<br />dari Muhammad bin Sinan. dari Fulai, dari Hilal bin Ali dengan tambahan redaksinya berbunyi, "dan bagi sahabat-sahabatnya di pasar, Nabi tidak<br />pernah membalas keburukan dengan keburukan, tetapi ia senantiasa<br />mempunyai sifat pemaaf. Keberadaan israiliyyat itu dalam shahih Bukhari<br />menunjukan bahwa kwalitas sanadnya shahih.</p><p>Demikian pula israiliyyat ada yang memiliki kualifikasi tidak dapat<br />diterima dan tidak pula dapat didustakan kebenarannya (maukuf),<br />contohnya surah an-Nisa 158 tentang kenaikkan Isa al-Masih :</p><p>"Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa<br />kepadaNya dan adalah Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana".<br />Al-Qur'an memang tidak membahas secara rinci<br />bagaimana proses penyerupaan dan kenalkan Isa as sehingga persoalan<br />ini kerap kali menjadi bahan kontraversi di kalangan umat Islam.<br />Umpamanya masih diperselisihkan apakah yang diserupakan dengannya<br />itu dan kemudian dibunuh oleh orang-orang Yahudi hanya satu orang atau<br />semua sahabatnaya yang ketika kejadian itu berlangsung berada di rumah<br />dengannya. Bila ada uraian tentang hal itu sudah bisa dipastikan<br />bersumber pada israiliyyat. Dalam hal ini ath-Thabari mengutip israiliyyat<br />itu. Ia mengemukakan dua macam riwayat yang masing-masing didukung<br />oleh banyak sanad. Riwayat pertama berasal dan Wahbah bin Munabbih<br />mengatakan yang diserupakan dengan Nabi Isa as adalah seluruh<br />sahabatnya. Ketika memasuki rumah tersebut dan hendak membunuhnya,<br />orang-orang Yahudi kebingungan karena seisi rumah itu wajahnya sama,<br />akhirnya mereka membunuh salah seorang sahabatnya, sedang Nabi Isa as<br />diangkat ke langit.</p><p>Riwayat kedua yang berasal dari Qatadah mengatakan bahwa yang<br />diserupakan dengannya adalah salah seorang sahabatnya saja, ketika masuk<br />orang-orang Yahudi membunuh orang yang diserupakan itu, sedangkan<br />Nabi Isa as diangkat ke langit.</p><p>Ath-Thabari lebih cenderung kepada pendapat Wahab bin Munabbih<br />dengan pertimbangan rasionya lebih mendekati kebenaran, jika salah satu<br />saja yang diserupakan, tentu para sahabatnya yakin yang dibunuh adalah<br />orang yang diserupakan. Padahal sebenarnya mereka merasa kebingungan<br />siapa sebenarnya yang mereka bunuh tersebut.</p><p>Dari israiliyyat-israiliyyat yang mewarnai kitab tafsir, menurut<br />pendapat saya, sebelum menjadi dasar menafsiran ayat al-Qur'an seorang<br />mufasir harus bersikap extra hati-hati. Metodenya adalah melakukan studi<br />kritis sanad, dengan meyebutkan nama-nama rawi yang terlibat dalam<br />transmisian sebuah riwayat sehingga didapati riwayat yang didasarkan pada<br />sanad yang sahih. Pencantuman israiliyyat dalam tafsir harus diberi<br />komentar tidak sekedar "taken for granted" saja sehingga membingungkan<br />para pembaca tafsir apa pendapat pengarang sebenarnya, apakah<br />mendukung atau tidak terhadap israiliyyat yang dicantumkan dalam<br />tafsirnya. Yang kedua harus diperhatikan kesesuaiannya dengan syari'at<br />Islam, persesualan ini dengan pada al-Qur'an dan Hadits Nabi. Yang ketiga<br />apakah sesuai dengan rasio atau tidak.</p><p>KESIMPULAN<br />Israiliyyat adalah bentuk jamak dari israiliyyah, yakni bentuk kata<br />yang dinisbahkan kepada kata israil yang berasal dari bahasa lbram, isra<br />berarti hamba dan it berarti Tuhan, jadi israil artinya adalah hamba Tuhan.<br />Dalam perspektif histories israil berkaltan erat dengan Nabi Ya'kub bin<br />Ishaq as, dimana keturunan beliau yang berjumlah dua belas disebut Bani<br />Israil. Secara istilah israiliyyat adalah kisah dan dongeng yang disusupkan<br />dalam tafsir dan hadits yang asal riwayatnya disandarkan atau bersumber<br />pada Yahudi, Nashrani dan lainnya atau cerita-cerita yang secara<br />sengaja diselunduplan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits,<br />yang sama sekali tidak dijumpai dalam sumber-sumber yang sahih.<br />Masuknya israiliyyat dalam tafsir tidak terlepas dari kondisi sosio<br />cultural masyarakat arab pada zaman jahiliyah. Adanya migrasi besarbesaran<br />orang Yahudi pada tahun 70 M ke jazirah Arab karena ancaman<br />dari Romawi yang dipimpin oleh kaisar Titus menimbulkan kontak antara<br />keduanya, ditambah lagi kondisi orang Arab sendiri yang sering melakukan<br />perjalanan dagang ke Syam dan Yaman., di Madinah sendiri banyak orang<br />Yahudi yang bermukim di sana.<br />Keberadaan israiliyyat dalam tafsir banyak memberikan<br />pengaruh buruk, sikap teliti yang diperlihatkan oleh para sahabat dalam<br />mentransfer. israiliyyat tidak menjadi perhatian genarasi sesudahnya,<br />sehingga banyak israiliyyat yang mengandung khurafat dan<br />bertentangan dengan nash mewarnal kitab tafsif.</p><p>Farihatni Mulyani : Masuknya Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an<br />AL-BANJARI Vol. 5, No. 9, Januari â" Juni 2007 17<br />DAFTAR PUSTAKA<br />Anwar, Rosihan, Melacak Unsur-unsur Israilliyyat dalam Tafsir<br />ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir, Bandung, Pustaka Setia, 1999.<br />al-Bukhari, Matn Bukhari, Beirut, Dar al-Fikri, tth, jilid II dan IV.<br />adz-Dzahabi, Muhammad Husain, al-Tafsir wa al-Mufassir, Mesir. Dar al-<br />Kutub wa al-Hadits, 1976, jilid I.<br />_________________, Penyimpangan dalam Penafsiran al-Qur'an, Jakarta,<br />Rajawali, 1986.<br />_________________, al-Israiliyyat fi Tafsir wa al-Hadits, terjemahan Didin<br />Hafiduddin, Jakarta, PT Litera Antara Nusantara, 1993.<br />Khalil, Sayyid Kamal, Dirasah fi al-Qur'an, Mesir, Dar al-Ma'rifah, 1961.<br />Rifai, Zainal Hasan, Kisah-kisah Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an<br />dalam Belajar Ulumul Qur'an, Jakarta, Lentera Basitama, 1992.<br />ar-Rifai, Muhammad Nazib, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta, Gema<br />Insani, 2000.<br />Syadali, Ahmad, dan Ahmad Rofi'i, Ulumul Qur'an I, Bandung, Pustaka<br />Setia, 1997.
</p>
</div><img src="http://api.mixpanel.com/track/?data=eyJldmVudCI6ICJmdWxsdGV4dGltcHJlc3Npb24iLCAicHJvcGVydGllcyI6IHsidG9rZW4iOiAiYTRhNDYwYTM5MDRlZWU4ZmY1ZTAyNGVhNGJkZTdhYzIifX0=&ip=1&img=1" width="1" height="1" border="0" /><img src="http://pixel.quantserve.com/pixel/p-89EKCgBk8MZdE.gif" border="0" height="1" width="1" /><br /><br /><a href="http://makalah-gratis.blogspot.com/2010/03/makalah-ulumul-quran-masuknya.html" rel="nofollow">Read More</a>